Tetanus

Tetanus merupakan salah satu penyakit yang paling berisiko mengakibatkan kematian. Penyebabnya, basil Clostridium tetani yang bersifat anaerob (tidak dapat tumbuh ketika berhubungan bebesas dengan udara) dan memproduksi toksin yang disebut tetanospasmin. Tetanospasmin ini bersifat neutropik sehingga bisa mengakibatkan ketegangan dan spasme/kekakuan otot. Infeksi tetanus terjadi karena luka. Sekecil apapun luka itu bisa menjadi tempat berkembang biaknya bakteri tetanus. Penyakit ini menular dan menyebabkan risiko kematian sangat tinggi.

Tetanus pada bayi, dikenal dengan istilah tetanus neonatorum, karena umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir atau usia dibawah satu bulan. Penyebabnya, spora Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusar karena tidakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan. Misalnya pemotongan tali pusar dengan bambu/gunting yang tidak steril, atau setelah dipotong tali pusar dibubui abu, tanah, minyak daun-daunan, kopi, dan sebagainya.

Gejala
  1. Bayi sadar, terjadi spasme otot berulang.
  2. Mulut mencucu seperti mulut ikan (carper mouth)
  3. Trismus (mulut sukar dibuka)
  4. Perut teraba keras (perut papan)
  5. Opistotonus (ada sela antara punggung bayi dengan alas, saat bayi ditidurkan).
  6. Tali pusar biasanya kotor dan berbau.
  7. Anggota gerak spastik (boxing pisition). 
Pencegahan
Pencegahan penyakit ini dpat dilakukan dengan imunisasi. Umumnya imunisasi diberkan pada calon pengantin. Dari imunisasi ini diharapkan bila hamil, tubunya sudah mempunyai antioksin tetanus (TT) yang akan ditransfer ke janin melalui plasenta.

Vaksin DPT (DTP) dan DTaP merupakan vaksin yang sama, hanya efek sampingnya yang berbeda. Vaksin ini terbukti mampu menghilangkan kemungkinan terkena difteri dan tetanus pada masa kanak-kanak, serta mengurangi kasus pertusis. Vaksin ini diberikan satu seri, terdiri dari 3 kali suntik pada imunisasi dasar, yaitu usia 3 bulan, 4 bulan, dan 15-18 bulan, dan terakhir saat sebelum masuk sekolah (4-6 tahun). Dianjurkan untuk mendapatkan vaksi Td (penguat terhadap difteri dan tetanus) pada usia 11-12 tahun atau paling lambat 5 tahun setelah imunisasi DTP terakhir. Setelah itu, direkomendasikan untuk mendapatkan Td setiap 10 tahun.

Vaksin DT sering membuat anak suhu tubuhnya meningkat atau timbul kemerah-merahan di sekitar bekas suntikan. Untuk mencegah panas tubuh, kadang dokter memberikan resep obat penurun panas untuk diminum sebelum atau sesudah imunisasi.
Share this article :

Popular Posts

Powered by Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Penyakit Pada Anak dan Balita - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger